Rabu, 11 Juli 2007

Ketulusan dan Kejujuran dalam Beragama (QS. Yunus/10:99)
Oleh : AHMAD NURCHOLISH/SYIRAH

“Dan sekiranya Tuhanmu menghendaki, sungguh akan berimanlah manusia di muka bumi seluruhnya. Apakah engkau (Muhammad) ingin memaksa manusia hingga semuanya beriman?” (QS. Yunus/10:99)

Dalam ayat ini, dan sejumlah ayat lain yang senada, dengan tegas Allah melarang orang melakukan paksaan, kasar atau halus, dalam agama.

Dalam kalimat lain, Syafii Ma’arif ( Yogyakarta :2000), mengatakan, pluralisme agama dan budaya sejak ribuan tahun lalu sudah merupakan fakta keras dalam sejarah, karena itu harus diakui, dihormati, dan disyukuri. Sebab, bila dilihat dalam perspektif yang lebih luas, fenomena itu telah memperkaya bangunan kemanusiaan universal.

Terkait dengan itu, al-Quran menginformasikan, para nabi dan rasul adalah mereka yang tulus ikhlas, bebas dari segala penyakit busuk hati, berpura-pura yang dapat meruntuhkan bangunan fitrah manusia.

Begitu juga semua pemeluk agama diperintahkan Allah untuk berhati tulus dalam memahami dan menjalankan agama masing-masing. Tanpa ketulusan, menurut Buya Syafii, agama tak punya makna apa-apa di depan Allah, bahkan akan menyesatkan orang banyak dan diri sendiri.

Tampaknya, hampir tidak ada peradaban umat manusia yang tidak mengenal arti ketulusan dengan pemahaman yang relatif sama. Agama lalu mempertegas dan mentransendenkan makna kandungan perkataan ketulusan itu.

Bila memberikan sesuatu kepada orang lain, seorang yang tulus tidak berharap balasan apa pun kecuali ridha Allah, bukan ridha manusia.

Sikap imani semacam ini juga dimiliki agama lain selain Islam, karena pemberian tanpa pamrih boleh jadi sepenuhnya berasal dari doktrin langit, meski setelah sampai di bumi sering mengalami distorsi karena kenisbian dan kelemahan manusia. Pemberian tanpa pamrih itulah yang kita sebut sebagai bentuk ketulusan sejati.

Dewasa ini, ketulusan sejati amat sulit dijumpai dalam peradaban modern yang sekuler dan cenderung materialistik. Namun, agama jelas tidak akan menyerah pada tantangan duniawi ini.

Selain itu, ketulusan juga memiliki saudara kandung, yakni kejujuran (honesty, thruthfulness). Dalam hal ini, semua agama juga mengajarkan kejujuran, meski penganutnya belum tentu jujur.

Namun demikian, kejujuran merupakan buah iman yang tulus. Ia adalah persoalan hati, bukan kerja kalkulasi otak. Demikian Buya Syafii.

Dalam pengalaman sehari-hari, tidak jarang dijumpai teman yang tidak seagama, tetapi kontak hati dirasakan sangat dekat. Mengapa? Karena di sana ada ketulusan dan kejujuran.

Sehingga kemudian, perbedaan iman (agama tepatnya) bukan lagi menjadi penghalang bertautnya dua hati manusia. Maka, wajar (?) jika ketulusan dan kejujuran itu memang “barang” mahal yang sulit ditemukan saat ini.

Karena persahabatan sejati hanya mungkin dibangun di atas fondasi iman yang kokoh yang membuahkan ketulusan dan kejujuran.

Kaitannya dengan masalah hubungan antarpemeluk agama, mungkin formula “berbeda dalam persaudaraan dan bersaudara dalam perbedaan” yang pernah didengungkan Syafii Ma’arif, dapat disepakati.

Di luar jalur formula itu, dikhawatirkan, agama tak lagi berfungsi sebagai sumber kedamaian dan keamanan, tetapi malah menjadi sumber sengketa dan kekacauan, bahkan peperangan. []


Tidak ada komentar: