Senin, 24 Desember 2007

Nyaris Bentrok Rebutan Masjid


Oleh : Ahmad Tohari

Itu judul sebuah berita di harian Suara Merdeka Semarang akhir pekan lalu. Isinya, di masjid Ukhuwah Islamiyah desa Klareyan Kecamatan Petarukan, Pemalang, pada hari Jumat nyaris terjadi bentrok antara dua kelompok umat. Diberitakan, di masjid yang namanya bagus itu pada saat yang sama dilakukan dua shalat Jumat, tentu dengan dua imam dan khatib pula.

Masih menurut berita itu, bila tidak dilerai oleh Camat dan aparat keamanan dua kelompok umat itu pasti akan berkelahi: rebutan masjid. Di daerah saya, Banyumas, hal semacam ini pernah beberapa kali terjadi. Meskipun begitu soal umat rebutan masjid selalu menggelisahkan saya.

Dulu di daerah saya rebutan masjid hanya disebabkan masalah adzan. Satu kelompok merasa benar bila adzan shalat Jumat dilakukan dua kali. Sebaliknya, kelompok lain meyakini adzan shalat Jumat yang benar adalah satu kali. Kedua pihak berkukuh dengan kebenaran (k kecil) yang mereka pegang karena keduanya merasa telah sampai kepada Kebenaran (K besar). Islah di antara kedua kelompok tidak bisa dicapai. Maka pihak yang kalah memisahkan diri dan kemudian secara emosional membangun masjid baru tidak jauh dari masjid lama.

Pihak yang menang tentu yakin mereka membela agama. Maka mereka mengira Kanjeng Nabi tersenyum gembira, dan penjaga surga dengan takzim siap membukakan pintu buat mereka. Sebaliknya, yang kalah merasa sedang berjihad membela kemuliaan agama yang ganjarannya adalah ridha Allah dan tentu saja surga.

Sementara pada saat yang sama dalam telinga saya terngiang kata-kata Kanjeng Nabi pada detik-detik terakhir hidup beliau: "Umatku..., umatku..." Ya, (K)ebenaran dan (k)ebenaran; dua hal amat berbeda namun hampir selalu disamakan. (K)ebenaran berada dalam wilayah ilahi yang merupakan dimensi Al Haq, sifatnya mutlak dan tunggal. Karena itu makhluk manapun tidak akan sampai kepadanya. Manusia sealim apapun, paling jauh hanya mampu mencapai (k)ebenaran. Dan (k)ebenaran manusiawi ini tidak mungkin tunggal dan mutlak. Maka sesungguhnya bila ada orang yang merasa atau mengaku mampu mencapai tingkat (K)ebenaran, samalah artinya dia mengaku memasuki wilayah ilahi.

Dulu, andaikata orang-orang di daerah saya mampu memahami bahwa capaian paling jauh yang bisa mereka raih adalah (k)ebenaran, bukan (K)ebenaran, tentu mereka bisa didamaikan. Mereka tidak akan ribut soal adzan sekali atau dua kali karena (k)ebenaran yang mereka pegang tidak memenuhi seluruh ruang keyakinan. Dan (k)ebenaran itu cuma soal pilihan, bukan keharusan yang bersifat mutlak. Malah mereka mungkin bisa bergurau, "Lha wong tanpa adzan pun shalat Jumat sah saja. Gitu aja kok..."

Dekonstruksi atas kecenderungan memutlakan (k)ebenaran ini bisa diperpanjang. Bila berhasil maka banyak sekali PR umat yang diakibatkan oleh sikap merasa paling benar bisa diselesaikan. Paradigma kejamakan dalam beragama pun bisa hidup dengan indah karena setiap orang atau kelompok menyediakan ruang untuk mengakui hak orang lain merasa benar dengan pilihan mereka. Beragama menjadi sikap budaya yang membumi dan tentu saja manusiawi.

Sayangnya upaya mengubah sikap merasa paling benar dalam penafsiran dan penghayatan agama memang tidak mudah. Karena umumnya orang sulit membedakan antara (K)ebenaran dan (k)ebenaran. (K)ebenaran wahyu Islam harus diyakini bersifat tunggal dan mutlak, tapi hanya Kanjeng Nabi seorang yang mampu sampai ke sana karena sifat maksumnya. Selain oleh Kanjeng Nabi, penafsiran dan pemahaman terhadap wahyu bahkan juga terhadap hadis Nabi-- hanya mungkin sampai kepada tingkat (k)ebenaran nisbi karena terbukungkus oleh kodrat kerelatifan manusia sendiri.

Ketika setiap orang atau kelompok merasa hanya bisa mencapai (k)ebenaran maka tidak akan ada pihak yang berani menjadi hakim atas pihak lain. Sang Hakim sejati adalah pemilik (K)ebenaran mutlak yang punya sebutan Al Haq. Dan hanya dalam kondisi seperti inilah ukhuwah bisa hadir. Selanjutnya, dalam cinta atau rahmat, semua persoalan umat bisa diselesaikan dengan bermartabat.

Sebaliknya, bila para pihak merasa punya (K)ebenaran, maka dalam sebuah masjid yang bernama Ukhuwah Islamiyah pun bisa terjadi permusuhan. Bukan hanya itu, takbir pun bisa diserukan untuk mengiringi tindakan kekerasan sosial atas nama agama. Jadi, di manakah ruh rahmatan lil alamin itu?

Seperti sudah saya katakan di depan, kecenderungan merasa paling benar sudah menjadi gejala yang akut di tengah kehidupan umat. Umumnya orang meyakini (k)ebenaran adalah (K)ebenaran. Situasi ini bisa diperbaiki bila para ustadz, kiai, atau tokoh kelompok Islam manapun berani mendakwahkan kepada diri sendiri dan para pengikut bahwa singgasana (K)ebenaran tidak pantas diduduki oleh mahluk manapun.

Karena selain melanggar makna syahadat, sikap demikian bisa membuat orang merasa berhak menghakimi keyakinan orang lain. Akibatnya perilaku keagamaan menjadi kaku dan keras, jauh dari citra Islam sejati yang seharusnya penuh damai dan cinta kasih. Contohnya ya, apa yang terjadi di masjid Ukhuwah Islamiyah, Pemalang, Jumat lalu itu. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: