Minggu, 07 September 2008

Tipologi Orang Bertakwa

Oleh: Prof Dr KH Ali Mustafa Yakub

Tujuan disyariatkannya puasa Ramadhan, seperti disebutkan dalam QS Albaqarah ayat 183, adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Kata tattaqun menggunakan fiil mudhari' yang memberikan konotasi 'selalu' atau 'terus-menerus'. Karena itu, manusia bertakwa yang dibina melalui pendidikan moral puasa tidak hanya bertakwa sesaat atau setelah selesai beribadah puasa, tetapi ketakwaan itu seyogianya terus berlanjut sepanjang tahun.

Alquran memberikan tipologi orang bertakwa dalam dua surat. Pertama, dalam surat Albaqarah ayat 1-4 yang menyebutkan bahwa orang bertakwa mempunyai lima karakter, yaitu beriman kepada yang gaib; mendirikan shalat; menginfakkan sebagian dari rizki yang diberikan Allah; beriman kepada kitab-Nya; dan berkeyakinan terhadap kehidupan akhirat. Dari lima karakter ibadah itu, hanya satu yang berdimensi sosial, yaitu infak.

Kedua, dalam surat Ali Imran ayat 133-135, ''Dan, bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dalam keadaan senang ataupun susah, orang-orang yang menahan amarahnya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan, (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampunan akan dosa-dosa mereka. Dan, siapa lagi yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah? Dan, mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.''

Tipologi orang bertakwa dalam surah Ali Imran ini ada enam karakter: tiga pertama berkaitan dengan ibadah sosial dan tiga terakhir berkaitan dengan ibadah individual.

Apabila kedua surat itu digabungkan, tipologi orang bertakwa ada 11 karakter. Empat karakter ibadah sosial dan tujuh karakter ibadah individual. 

Yang menarik, karakter ibadah sosial (infak) disebutkan dua kali dalam dua surat itu. Hal ini memberikan isyarat bahwa masalah infak adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi salah satu tipologi orang bertakwa. Seseorang tidak mungkin menjadi manusia yang bertakwa kepada Allah apabila karakter selalu berinfak tidak menjadi bagian dari perilakunya sehari-hari.

Alquran dan hadis lebih banyak menekankan pentingnya ibadah sosial daripada ibadah individual. Nabi SAW bahkan menegaskan, ''Tidak disebut beriman orang yang perutnya kenyang, sementara tetangganya kelaparan.''
(-)

Tidak ada komentar: