Rabu, 08 Oktober 2008

Minal Aidin

Oleh: M Bambang Edi Susyanto

Minal 'aidin wal-faizin adalah untaian kalimat yang sangat populer di sekitar Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat Muslim Indonesia mengucapkan kalimat tersebut dalam perjumpaan sekitar masa Lebaran. Ungkapan ini jauh lebih populer daripada doa Lebaran yang lebih standar, yakni taqobbalallahu minnaa wa-minkum.

Secara bahasa, arti minal 'aidin wal-faizin adalah "dari (golongan) orang-orang yang kembali dan yang mendapat keuntungan". Jadi, sebenarnya ia merupakan penggalan doa yang kalimat lengkapnya adalah sebagai berikut: "Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai bagian dari (golongan) orang-orang yang kembali (al-'aa idun) dan yang mendapat kemenangan (al-faaizuun)". Dalam bahasa Arab, doa ini dapat dilafalkan sebagai berikut: Ja'alanallahu wa iyyaakum minal 'aidin wal-faizin."

Ungkapan minal 'aidin menggambarkan keinginan kita agar dijadikan Allah sebagai bagian dari orang-orang yang kembali kepada fitrah, bukan sekadar kembali makan (ifthar atau buka) setelah berpuasa.

Sementara itu, ungkapan wal-faizin mewakili harapan kita untuk menjadi pemenang atau mendapat kemenangan hakiki, yang berkaitan dengan keberhasilan proses penggemblengan selama Ramadhan yang merupakan bulan bakti (bulan amal salih) sekaligus bulan pendidikan (tarbiah).

Rasulullah menggambarkan keberhasilan puasa sebagai kembalinya sang pelaku kepada sifat-sifat fitri seorang bayi yang baru dilahirkan. Kembalinya fitrah ini dapat dikaitkan dengan bersihnya hati dari dosa karena amal salih selama Ramadhan dijanjikan akan menutup dosa pelakunya sebagaimana disabdakan Rasul. Kembali kepada fitrah juga dapat dikaitkan dengan kokohnya tauhid sebagaimana kokohnya jawaban kita atas pertanyaan Allah di saat kita belum dilahirkan, alastu birobbikum? (apakah engkau akui bahwa Aku Rabbmu?).

Adapun kemenangan, dapat dihubungkan dengan berbagai jenis kemenangan hakiki sebagaimana disebut dalam Alquran. Di antaranya, derajat yang tinggi di sisi Allah (QS At-Taubah [9]:20), ridha Allah (QS At- Taubah [9]:72), surga (QS At-Taubah [9]: 100), dan karunia dari Allah (QS Ad-Dukhaan [44]: 57). Kemenangan juga dikaitkan dengan sifat-sifat baik, yang dikembangkan selama Ramadhan. Yakni, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya (QS Al-Ahzab [33]:71), kesabaran (QS Al-Mu'minun [23]: 111), serta takut dan ketakwaan kepada Allah (QS An-Nur [24]: 52).

Tidak ada komentar: