Senin, 04 Februari 2008

Hijrahlah Agar Terhindar dari Bencana!


Oleh : KH A Hasyim Muzadi

Masih adakah yang tersisa dari praduga kita bahwa bencana yang datang beruntun adalah bentuk dari sebuah cobaan dan ujian? Rasanya sulit menghindar dari kenyataan bahwa serangkaian bencana ini datang akibat kecerobohan kita sendiri sebagai hamba Allah SWT. Bukankah bukti-bukti sudah terang benderang? Bukankah bencana yang menyergap semua sisi kehidupan kita adalah buah dari keanehan mental kita yang terbiasa melakukan perusakan?

Jangan lagi menyalahkan alam. Jangan lagi menuding alam bertingkah dan tak lagi bersahabat dengan kita. Kini waktunya menyalahkan diri sendiri atas segala persoalan yang datang tiada henti, bergelombang tanpa diketahui ujung pangkalnya. Kita pantas takut karena bencana tidak saja menghantam mereka yang bertindak lalim tetapi juga menghempaskan mereka yang biasa berlelaku saleh. Wattaquu fitnatan laa tushibannalladzina dhalamuu minkum khoossoh. Demikian Allah SWT mengingatkan kita semua. Apa yang sejatinya terjadi dengan alam tempat kita tinggal? Adakah yang salah dengan alam kita ataukah kita penyebab semuanya?

Di tengah kian tak kuasanya kita memprediksi di bagian manakah lagi bentangan daratan kita yang akan diterjang musibah, beberapa hari ke depan akan segera datang tahun baru Islam yang biasa kita kenal dengan Tahun Hijriyah. Inilah tahun yang ke-1429 sejak Baginda Muhammad melakukan hijrah, dari tanah air tercintanya, Kota Makkah Almukarramah, menuju Yatsrib, Madinah Almunawwarah, Kota Yang Tercerahkan.

Hijrah merupakan pilihan terakhir yang dianjurkan Baginda Rasul kepada pengikutnya, karena situasi dan kondisi di Makkah dan sekitarnya tengah mengancam entitas ummat Islam. Kalau tidak karena kekhawatiran yang begitu kuat menekan jiwa baginda dan kian tampaknya tingkat kecemasan pada umat Islam saat itu, Rasulullah tak akan melakukan hijrah. Adakah relevansi hijrah dengan kondisi bangsa kita belakangan? Rasanya, hijrah akan selalu relevan dilakukan mengingat kondisi bangsa yang kian carut-marut.

Bagaimana kita melakukan hijrah sekarang ini? Hijrah, demikian para ulama biasa mengelaborasi langkah politik Baginda Rasul ini, bisa dilakukan dengan banyak alasan dan motivasi. Untuk memudahkan implementasinya, hijrah bisa pula dibagi menjadi dua: hijrah badani dan hijrah rohani. Hijrah badani dapat dilakukan, misalnya, bila tanah tempat kita tinggal tak mampu memberikan rasa aman terhadap jiwa, properti serta kehormatan.

Bila sebuah kota menjadi garang, sebuah komunitas menjelma kanibal, sebuah pemerintahan ibarat lintah yang tiada henti mengisap darah rakyatnya, para pemimpin ibarat benalu yang setiap saat merampas hak-hak rakyat dan para pemangku keamanan tiada jemu menebar rasa takut kepada kita; maka waktunya kita berhijrah ke tempat lain yang jauh lebih aman!

Hijrah badani bisa juga dilakukan jika sebuah bangsa sudah tak lagi merahmati kodrat kemajemukan, gemar membuang jauh-jauh sikap toleran, hidup penuh curiga, sukuisme jadi semangat hidup tertutup dan membabat habis suku lainnya, agama menjelma alat menumpahkan darah atas nama Tuhan, serta kekerabatan antargolongan yang mengakibatkan maraknya tindakan saling tuding, saling injak, saling serang, saling bunuh, saling bakar dan saling memusnahkan antarmereka; maka segeralah berhijrah!

Bagaimana mungkin tuan-tuan bisa duduk nyaman, sementara kekerasan terjadi di depan mata dan baru akan bertindak setelah terbitnya sebuah fatwa atas nama sebuah firman. Tindak kekerasan, dalam agama apa pun, tak disukai dan sungguh dikutuk. Bagaimana mungkin sebuah keyakinan membunuh keyakinan lainnya. Apalagi, kita belum pernah membaca sejarah soal adanya pertikaian antarnabi dan antarrasul.

Hijrah dalam spektrum rohani sifatnya lebih mendalam, karena akan sangat memengaruhi kesehatan tingkah laku, kekuatan mental dan ketahanan jiwa serta keagungan spiritual. Dalam diri kita, telanjur banyak anasir negatif, gerombolan tentara hawa nafsu, jiwa serigala, semangat ingin selalu menang, tak mau mengalah, angkuh, bernafsu menguasai dan kecenderungan-kecenderungan buruk lainnya.

Inilah saatnya kita melakukan hijrah rohani. Sepanjang hari kita cuma disajikan fragmen bagaimana kaum terhormat menjelma serigala yang buas, menempatkan rakyat di ujung tombak untuk sebuah perburuan kursi dan kekuasaan, menebar janji yang selalu diingkari, berkata-kata manis-retoris padahal isinya cuma dusta. Duhai dia yang mengaku terhormat! Segeralah berhijrah secara rohani. Berhijrahlah dari kursi empuk yang anda duduki karena hati rakyat sudah lama menangis.

Berhijrahlah dari menara gading, karena mata hati rakyat tak pernah lelap. Berhijrahlah dari segala keinginan jahat karena hati rakyat tak pernah lupa mendoakan tuan-tuan agar dapat berhati sejuk. Hijrah dan turunlah! Sebab hati rakyat cuma dapat diselami di dasar samudera jiwa yang amat luas. Berhijrahlah, karena sudah lama nama tuan-tuan menempati ruang hati kami, tergurat kuat dalam bola mata kami. Sadarlah segera bahwa setiap kami memohon perlindungan Allah SWT untuk tuan-tuan, hati kami menjerit karena setiap kali itu juga tuan-tuan merusak hati kami sebagai tempat tuan-tuan bersemayam.

Berhijrahlah! Karena setiap kali nama tuan-tuan muncul di lidah kami, bukan kedamaian yang datang menjelang tetapi justru kelebatan sosok tuan-tuan yang menakutkan. Sadarkah tuan-tuan bahwa kami tak pernah lelap tidur sebelum memohonkan keselamatan tuan-tuan. Wahai bangsaku! Renungkanlah sebuah firman Allah SWT, Qul hual qaadiru 'alaa an yab'atsa 'alaikum adzaaban min fauqikum au min tahti arjulikum au yalbisakum syiyaa-'an wayudziiqa ba'dhakum ba'sa ba'dhin; unzhur kaifa nusharriful ayaati la'allahum yafqahuun Katakan, Dialah Yang Mahakuasa mengantarkan kepada kalian azab dari atas kalian, atau dari bawah kaki-kaki kalian, atau mengacaukan kalian dalam kelompok-kelompok fanatik dan mencicipkan keganasan sebagian dari kalian kepada sebagian yang lain. Lihatlah bagaimana Kami mendatangkan silih berganti tanda-tanda kekuasaan Kami, agar mereka mengerti.

Tidakkah kita menyadari bahwa ayat ini sungguh tegas untuk menjelaskan segalanya? Karbondioksida sudah nyata menjadi ancaman terbesar bangsa kita dan anak semua bangsa di dunia ini, tetapi tetap saja kita membiarkan segelintir orang membakar udara. Karbondiaksoda dengan leluasa membakar udara anaka-anak manusia. Akibatnya, para petani kita tak tahu lagi kapan harus menanam dan kapan harus panen. Iklim yang dengan mudah bisa diramalkan oleh BMG, seperti membuat semua ukuran jadi absurd. Bahkan, hujan pun seperti leluasa turun kapan saja ia mau.

Lalu, terjadilah banjir bandang dan berguguranlah tebing-tebing gundul yang menimpa puluhan anak bangsa. Bukankah ini sebuah azab yang Allah turunkan dari atas kepala kita. Mau bukti lagi? Mari kita mengarahkan kembali perhatian ke sebuah sudut di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Bagaimana mungkin hamparan maha luas lumpur panas bisa dengan bebasnya menerjang kehidupan sebagian saudara kita, menghempaskan apa saja dari bawah kaki-kaki mereka? Ya Allah! Kalau menggunakan ayat ini sebagai ukuran, maka benarlah sudah, semua yang terjadi benar-benar azab dari-Mu Ya Allah!

Tetapi apa yang bisa kita lakukan? Padahal Allah jelas-jelas mengingatkan bahwa bencana dan azab selalu datang berulang-ulang tetapi kita tetap saja tidak menyadari kesalahan kita sendiri. Duhai bangsaku! Berhijrah secara rohani sebelum terpaksa hijrah secara fisik. Marilah kembali menghadirkan Allah SWT ke dalam nurani kita, mengalirkan Asma-Nya Yang Agung dalam darah kita, menjadikan sifat-Nya menyelimuti tingkah laku kita, menghadirkan keagungan Allah di ujung lidah-lidah kita. Mari kita jadikan Tahun 1429 Hijriyah sebagai titik berangkat menuju kehidupan badani dan ruhani yang jauh lebih sublim, tulus, ikhlas dan tetap bersamaan dengan taufik Allah SWT. Wallaahu a'lamu bisshawaab.

Tidak ada komentar: