Rabu, 16 Januari 2008

Usia di Dunia



Oleh : Muhamad Abduh

Naluri dasar setiap manusia adalah ingin merasakan kenikmatan dan kesenangan dalam hidup ini selama mungkin. Kita tak pernah berhenti mencari cara agar kenikmatan tersebut tidak hilang dari diri kita.

Namun, kebanyakan kita telah lupa, bahwa bukanlah kehidupan di dunia yang menjadi tujuan akhir dalam kehidupan, akan tetapi kehidupan yang kekal nanti di akhirat. Kehidupan di dunia ini hanyalah sekejap mata saja, sehingga jika usia ini tidak dipergunakan sebaik mungkin untuk beramal, maka penyesalan kita yang akan tertinggal.

Allah SWT berfirman, ''Dia (manusia) mengatakan, 'Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini'. Maka pada hari itu tiada seorangpun yang menyiksa seperti siksa-Nya. Dan tiada seorangpun yang mengikat seperti ikatan-Nya.'' (QS Alfajr [89]: 24-26) Sungguh usia kita di dunia tidak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan kehidupan yang akan kita jalani di akhirat nanti. Allah SWT berfirman, ''Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?'' (QS Albaqarah [2]: 28).

Perhatikanlah dua kehidupan yang serupa tetapi berbeda itu, kehidupan di dunia, dan kehidupan di akhirat. Jika kita melihat usia terpanjang umat Muhammad SAW, maka kehidupan di dunia ini mungkin akan dirasakan sampai 120 tahun saja, akan tetapi kehidupan di akhirat itu kekal abadi, atau tidak terhingga oleh hitungan waktu.

Maka, jika berdasarkan kaidah ilmu matematika, suatu nilai berapapun jika dibandingkan dengan nilai tak berhingga hasilnya adalah nol. Dari sini dapatlah kiranya kita yakinkan bahwa kehidupan di dunia yang rata-rata dinikmati selama 63 tahun, tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan kehidupan di akhirat yang kekal. Nilainya adalah NOL besar. Wallahu a'lam.

Tidak ada komentar: